EBOOK, BOOKS, FREE DDOWNLOAD E-BOOK, DOWNLOAD GRATIS, NOVEL AGATHA CHRISTIE, EBOOKS BISNIS
Nabi Nuh 'Alaihi Salam
Nabi Nuh 'Alaihis Salam menyeru kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, namun mereka berpaling. Ia juga memberikan peringatan dengan siksa yang pedih, serta memberikan kabar gembira dengan ganjaran yang besar namun mereka tetap buta dan tidak mau mendengar, lagi menyombongkan diri.
Demikianlah Nabi Nuh 'Alaihis Salam menyeru, memaparkan argumentasi dan bukti-bukti akan kebenaran risalah yang diembannya sehingga berimanlah ke-padanya sebagian kecil dari kaumnya.
Kesabaran Nabi Nuh 'Alaihis Salam Atas Ejekan Kaumnya
Di antara kaum Nabi Nuh 'Alaihis Salam berkata: “Kamu tiada lain adalah manusia seperti kami, dan salah satu di antara kami, kalau Allah menghendaki untuk mengutus seorang rasul, maka pastilah Dia akan mengutus seorang malaikat, dan niscaya kami akan mendengarkan seruannya, memenuhi panggilannya, dan orang-orang yang telah mengikuti kamu tiada lain adalah orang hina, rendahan, dan lemah akalnya tidak dapat membedakan mana yang baik dan tidak matang pikirannya, kalau apa yang engkau bawa adalah baik, pastilah kami telah mendahului mereka, dan apabila yang engkau katakan adalah benar, niscaya kami akan lebih dahulu beriman dan mengikuti petunjukmu!”
Mereka terus-menerus menentang dan tak henti-hentinya mengejek dengan berbagai macam cara dan kata. Dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati Nabi Nuh 'Alaihis Salam menjawab: “Apa pendapat kalian, jika aku benar-benar dalam kebenaran dan telah tampak bukti yang nyata tentang kebenaran apa yang aku bawa, dan Allah telah memberikan rahmat dan keutamaan kepada kami dari-Nya, kemudian hati kalian buta dan tertutup, dan kalian berusaha menghalangi matahari dengan telapak tangan kalian, atau menghancurkan bintang-bintang dengan tangan kalian, apakah saya akan mampu menekan kalian supaya beriman, ataukah saya mempunyai kekuatan untuk memaksa kalian agar menjadi orang beriman?”
Akan tetapi mereka hanya mau beriman jika Nabi Nuh 'Alaihis Salam mau mening-galkan kaumnya yang mereka anggap sebagai orang rendahan dan derajat budak, inipun sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat karena hati mereka memang ingkar. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Nabi Nuh 'Alaihis Salam dan dijawab bahwa sesungguhnya da’wah yang ia bawa adalah da’wah yang menyeluruh untuk semua, sama kedudukan orang yang ternama dengan yang tidak, orang yang kaya dan faqir, pimpinan dan orang yang dipimpin. Selain itu merekalah yang selama ini membantunya berdakwah dan menolong ketika orang-orang memusuhi.
Ketika perdebatan telah memun-cak dan mereka telah bosan serta hati mereka telah merasa sesak, mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancam-kan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. 11:32)
Menjawab tantangan kaumnya, Nabi Nuh 'Alaihis Salam bisa mengatakan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak bisa mendatangkan adzab. Beliau menga-takan: “Wahai kaumku, ketahuilah bahwa tempat kembali segala sesuatu hanyalah kepada Allah, jika Dia menghendaki maka Dia akan mem-berikan petunjuk kepada kalian dan jika Dia menghendaki Dia segera mendatangkan adzab dan menyiksa kalian, dan jika Dia menghendaki maka Dia akan menangguhkan kalian agar nantinya kalian mendapatkan siksaan yang sangat pedih dan sangat dahsyat.”
Lalu Nabi Nuh 'Alaihis Salam mengadukan segala kesedihan dan kepedihan yang ia hadapi kepada Allah dan memohon pertolongan dan petunjuk-Nya sehingga Allah mewahyukan kepada-Nya: “Bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman diantara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. 11: 36)
Wahyu Untuk Membuat Perahu
Ketika Nabi Nuh 'Alaihis Salam mengetahui dari Allah bahwa Dia telah menetapkan tidak ada yang akan beriman lagi kepadanya dan bahwa Allah telah menutup hati mereka sehingga mereka tidak akan tunduk kepada bukti apapun dan tidak akan beriman, maka habislah kesabaran Nabi Nuh 'Alaihis Salam , dan ia pun berdo’a memohon kepada Allah agar membinasakan orang-orang kafir dari kaumnya dan mengampuni kesalahannya, kedua orang tuanya dan orang-orang yang bersamanya (QS. 71: 26-28).
Lalu Allah mengabulkan do’a Nabi Nuh dan mewahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zhalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. 11:37)
Maka Nabi Nuh 'Alaihis Salam mengambil tempat yang jauh dari kota, dan mulai membuat perahu, akan tetapi dia tidak luput dari olokan dan ejekan kaumnya.
Sebagian mereka berkata: “Wahai Nuh, sebelum ini engkau mengaku bahwa dirimu adalah seorang rasul, lalu bagaimana bisa sekarang engkau menjadi tukang kayu, apakah engkau sudah tidak menjadi nabi atau engkau hendak beralih pekerjaan menjadi tukang kayu?”
Sebagian lain berkata: “Kenapa engkau membuat kapal jauh dari laut dan sungai?Apakah engkau telah menyiapkan sapi untuk menariknya ataukah engkau akan menyuruh angin untuk membawanya?”
Akan tetapi Nabi Nuh berpaling dari ejekan mereka, dan berkata: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejekmu sebagai-mana kalian telah mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakan dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. (QS. 11: 38-39)
Dia menuju kapal yang sedang dia buat, memperbaiki dan menyambung satu dengan yang lainnya sehingga menjadi bahtera yang kokoh, dan menunggu apa yang telah dijanjikan oleh Allah, maka Allah mewahyukan kepadanya: “Apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. (QS. 11:40)
Adzab Dari Allah Yang Dijanjikan
Benarlah apa yang diancamkan oleh Allah, seketika saja angkasa dipenuhi awan tebal, lalu langit menurunkan hujan dan bumi mengeluarkan air yang banyak, maka terjadilah banjir besar yang tidak pernah dikira, dan Nabi Nuh 'Alaihis Salam telah berada di bahtera bersama mereka yang telah beriman serta sepasang dari setiap binatang serta mengucapkan: Bismillahi majreha wa mursaha, terkadang bahteranya dibawa oleh angin yang lembut terkadang dengan angin yang kencang. Sementara itu orang-orang yang kafir terus bergelut dengan air bah, mereka berusaha mengalahkan kematian namun kematian mengalahkan mereka, mereka berusaha membanting ombak namun ombaklah yang membanting mereka hingga akhirnya mereka hilang ditelan air dan lenyap dari pandangan, menghilang sebagaimana rahasia yang selalu tersimpan dalam hati. Ombak telah menjadi kuburan bagi mereka sedangkan buih menjadi kain kafannya.
Putra Nabi Nuh 'Alaihis Salam
Dari atas kapal Nabi Nuh melihat putranya Kan’an yang tidak beriman kepadanya sedang berjuang keras melawan ombak dan berusaha untuk berlindung di sebuah gunung, lalu beliau memanggilnya dan mengajak-nya untuk bergabung kepadanya dengan beriman terhadap apa yang dibawanya, beliau berkata: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir”. (QS. 11:42)
Akan tetapi seruan dan ajakan tersebut sama sekali tidak mendapat-kan tempat di hati Kan’an dan dia menyangka bahwa dia akan selamat dari apa yang dihadapinya dan berkata: “Menjauhlah engkau dariku karena aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”
Lalu Nabi Nuh berkata kepadanya sedangkan dia telah dirundung kesedihan dan diliputi oleh kepedihan: “Wahai anakku! Tidak ada yang me-lindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”.
Namun Kan’an tetap keras kepala, nasehat sang ayah yang mencintainya tak digubris, lalu tiba-tiba saja ombak besar menimpa Kan’an dan memisahkan keduanya. Nabi Nuh tidak dapat melihatnya lagi, maka bersedihlah dia lalu menghadap kepada Allah tempat kembali orang yang dirundung duka dan Penolong orang yang kesusahan, dia berkata: “Ya Allah sesungguhnya anakku adalah bagian dari keluargaku, dan Engkau telah berjanji –dan janji-Mu adalah benar– bahwa Engkau akan menyelamatkanku dan orang-orang yang beriman dari keluargaku dan Engkau adalah seadil-adilnya yang memberi hukuman.”
Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya adalah perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. 11: 46)
Pada saat itulah Nabi Nuh menyadari bahwa rasa kasih sayangnya dan perasaannya telah memalingkannya dari kebenaran, maka dia pun mohon ampun kepada Allah dan perlindungan dari kemurkaan-Nya.
Akhirnya bahtera Nabi Nuh pun berlabuh di atas gunung Judiy, dan dikatakan kepada Nuh: ”Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. “. (QS. 11:48).
Zahwa
Masih lumayan jauh jarak yang harus ditempuh. Dari Yordan Zahwa masih harus lewat jalan darat lagi menuju Gaza, Palestina. Ah, ia sangat rindu pada tanah kelahiran yang telah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya itu! "Proses perdamaian hampir sempurna, anakku," begitu kata Papa Kareem saat menjenguknya di Paris. "Arafat yang sabar, dan simpatik itu dengan dukungan rakyat akan menjadi presiden di tanah merdeka kita," ujar pria setengah abad, pengusaha Palestina sahabat Arafat, sekaligus sosok ayah yang sangat dikaguminya itu.
"Mon Dieu! Tentu saja kau boleh pulang. Tetapi apa kau yakin di sana tak lagi ada tragedi-tragedi kebencian?" tanya Mommy sebulan lalu. Kekhawatiran masih menyelimuti wanita Perancis yang sejak sepuluh tahun lalu tak lagi mau tinggal di Palestina ini. Tetapi tekad Zahwa telah bulat. Ia harus dan kan kembali. Apalagi beberapa waktu lalu ia bertemu langsung dengan Arafat! Ketika itu pemimpin PLO tersebut tengah mengantar Madame Suha istrinya ke boutique milik Mommy. Ya, Zahwa tak akan pernah lupa kata-kata yang diucapkan Arafat padanya waktu itu.
"Anak yang cerdas, Madame. Palestina merdeka membutuhkannya. Saya berharap anak saya yang juga bernama Zahwa kelak akan seperti anda, Mademoiselle!"
Sungguh, Gaza hampir tak berubah. Kota di Tepi Barat sungai Yordan in masih saja kumuh seperti sepuluh tahun lalu, saat Zahwa meninggalkannya untuk menuntut ilmu di Perancis. Hanya saja kini terdapat sejumlah lelaki berseragam dan mengenakan pet coklat. Sambil menyandang senapan AK-47, atau pistol, mereka sibuk mengatur lalu lintas.
"Polisi Palestina!", tebak Zahwa sambil tersenyum. Bagus, pikirnya, telah ada militer resmi di Palestina. "Kini tiap orang tak perlu bersikap radikal seperti HAMAS dengan intifadhahnya," guman Zahwa. "Mereka terlalu Keras dan tak mau menenpuh jalan damai. Mengerikan bila melihat kenekadan mereka selama ini!" cerita Papa Kareem suatu ketika. Zahwa setuju. Ia masih ingat tayangan televisi CNN setahun lalu. Bulu kuduknya meremang mengingat tubuh-tubuh orang Yahudi yang cerai berai ketika bis mereka diledakkan anggota Hamas di tengah kota Tel Aviv.
"Anda mahasiswi politik bukan?" tanya Arafat padanya waktu itu. "Strategi politik yang tepat untuk menghadapi Israel adalah dengan kompromi damai. Tak mengapa hanya Jericho, Jenin dan Gaza yang dikembalikan pada kita. Kita ikuti dulu permainan ini. Kelak berkat kesabaran bahkan Yerusalem akan kembali pada kita!"
Zahwa terus berjalan. Sesekali dara berusia dua puluh dua tahun ini memergoki pandangan menyelidiki dari warga setempat. Ia pernah mendengar bahwa hubungan antar warga di sini sangat baik, dan mereka saling mengenal satu sama lain. Tapi Zahwa merasa bukan orang asing di sini. Atau karena kaos dan jeans belelnya"
"LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIK! KKULLUNA SHOLAHUDIN!"
Suara itu begitu bergemuruh! Zalwa terperanjat saat menoleh ke arah datangnya suara!!! Matanya benar2 terbelalak!!
"LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIK! KULLUNA YAHYA AYYASH!"
Dibelakangnya terlihat pemandangan luar biasa! Lautan manusia dengan langkah gagah berjalan menuju ke arahnya. Teriakan takbir tiada henti terdengar! Ada apakah?
Zahwa menyingkir. Rasa takut dan takjub bercampur aduk dalam hatinya. Belum pernah ia melihat lautan manusia yang begitu mengelora seperti ini. Dan mereka semuanya bertakbir! Kini rombongan itu melintas di depannya. Zahwa melihat sesosok tubuh berselimut kafan yang dijunjung oleh sekitar delapan lelaki! Lelaki yang lain berjalan paling depan sambil memegang pengeras suara, memimpin yang lain untuk bertakbir dan meneriakkan yel-yel.
'KHAIBAR-KHAIBAR YA YAHUD! JAISYU MUHAMMAD SAUFA YA'UUD!!"
Rasa ingin tahu Zahwa berkecamuk. Mereka? Jelas warga Palestina. Tua muda bahkan kana-kanak. Ya, kanak-kanak! Dan mayat itu? Ya Allah, lautan manusia mengantarnya! Ribuan orang.., ah bukan, tidak, tetapi ratusan ribu orang! Dan dalam setiap lajur jalan, bertambah lagi jumlah para pengantar itu! "Maaf, mayat siapakah itu?" tanya Zahwa pada seorang wanita tua berabaya hitam yang lewat di hadapannya. Wanita itu memandang Zahwa dengan tatapan tajam dan aneh. Mata merahnya yang terlihat garang tampak basah. "Inilah As Syahid Yahya Ayyash! Mujahid berbudi, musuh nomor satu Yahudi sekarang ini!" katanya sambil menangis lagi dan terus berjalan. "Hamas! Hamas!" Hamas!" Serunya mengepalkan tangannya yang keriput sebelum berlalu.
Zahwa tertegun sejenak. Iring-iringan ini bagaikan air yang mengalir tiada henti. Panjang sekali! Dan..Hamas? "Maaf, siapakah yang wafat ini?" tanyanya. Kali ini pada seorang pemuda. Pemuda itu tampak sendu, namun rahangnya memendam kegeramanan dan kebencian! Zahwa agak takut melihat reaksinya! "Apakah kau mencintai tanah ini? Jika ya, tentu kau membenci 80 Yahudi pembuat makar! Kini Mossad membunuh sang Insinyur ini!! Dan pemuda itu pun berlalu begitu saja sambil bertakbir.
Zahwa mulai faham. Ia pernah mendengar julukan 'the Engineer' dalam peristiwa peledakan bus di Tel Aviv. Sang Insinyur adalah julukan dinas keamanan Yahudi untuk dalang peledakan dashyat yang mencoreng muka Mossad dan Shin Bet (Dinas keamanan Yahudi) itu. "Oo, jadi Yahya Ayyash adalah sang Insinyur,' guman Zahwa. Bakat ingin tahunya muncul. Alih-alih bergegas pergi, ia mulai memperhatikan keadaan. Ratusan ribu orang ini tampak mewakili hampir seluruh penduduk Palestina. Bagaimana orang Hamas seprti Yahya Ayyash bisa mempengaruhi mereka? Belum pernah Zahwa melihat atau mendengar kejadian seperti ini. Seorang Palestina yang kepergiannnya diiringin lautan manusia dengan penuh ta'zim!! Luar biasa! Tiba-tiba Zahwa ingin sekali bergabung dalam lautan manusia itu. Hati kecilnya berperang antara godaan rasa ingin tahu dan kerinduan pada keluarganya. Dan...ya, itu ada sepasukan polisi Palestina!!
"Maaf, mayat siapa itu dan apa yang terjadi?" "Yahya Ayyash! Kami tak bisa membendung arus manusia ini!" kata seorang di antar mereka. "Sebenarnya kami diperintahkan untuk menangkap mereka. Tetapi bagaimana mungkin?" jelas seorang opsir yang tampak panik.
Melihat wajah opsri 'panik' itu, Zahwa menghela nafas sambil menahan senyum. Ia rindu papa Kareem Abror. Rasa itu mengalahkan rasa ingin tahunya. Dengan berat hati, Zahwa menyeret langkahnya pulang. Takbir para pengiring jasad Ayyash masih bertalu-talu di telinganya.
Malam harinya Zahwa melihat berita yang dipancarkan stasiun Israel. Dilihatnya di tivi betapa warga Yahudi menari dan bernyanyi atas kematian pemuda berumur dua puluh sembilan tahun itu, seakan kesedihan akibat kematian Rabin sirna seketika. Ketika kemudian papa Kareem pulang, dilihatnya wajah beliau biasa. Tak sedih seperti orang-orang Palestina yang ditemuinya. "Yahya Ayyash adalah anggota Hamas yang kerap berusaha menggagalkan negosiasi perdamaian," begitu komentar papa Kareem. "Tapi..pemandangan yang saya lihat tadi luar biasa. Bila Hamas bukan gerakan rakyat atau minimal mendapat dukungan rakyat..., tak mungkin Yahya Ayyash mendapat penghormatan sehebat itu! Saya...jadi bingung, papa..." Papa Kareem mengangkat bahu. Cuma itu. Zahwa kecewa.
Pemilu perdana Palestina merdeka tak lama lagi. Papa Kareem tampak sangat sibuk. Entah apa yang dikerjakan beliau. Yang jelas papa tampak antusias. "Papa akan membantu dana kampanye. Bila Arafat menjadi presiden, mungkin papa akan menjadi salah satu menteri. Paling tidak anggota parlemen," kata beliau.
"Tapi mengapa warga Gaza banyak yang tak peduli pada Pemilu ini?" tanya Zahwa. "Dari mana kau tahu? Itu tak benar." Zahwa menggaruk kepalanya. "Hampir tiap sore saya keliling dengan mobil pemberian papa itu. Sungguh, tak ada yang mencolok. Bahkan warga Gaza seolah malas membicarakannya." "Sudahlah! Kita menjadi warga negara yang baik saja. Setuju?" Zahwa diam saja, berusaha tersenyum.
Hari in Zahwa kembali berkeliling. Besok sudah pemilu. Dan seperti hari-hari sebelumnya ia hanya melihat kesibukan polisi dan para pegawai Otorita Palestina. Di antaranya menghapus grafiti-grafiti pro Hamas. Heran, hari ini dihapus, besok selalu ada lagi. "Kali ini kami menjaga setiap tembok yang ada semalaman, nona!" ujar mereka ketika disapa. Mobil Zahwa terus melaju..tiba-tiba..CIIIITTTT! Zahwa me-rem mobilnya kuat-kuat. Seorang ibu muda dengan tiga anaknya melintas! Hampir saja! Zahwa segera turun. Dilihatnya ibu muda itu menarik tangan anak-anaknya menjauhi mobil.
"Assalamu'alaikum, maaf ummu!" sapa Zahwa. Wanita berjilbab putih itu menjawab salam. Dan ketika ia akan berlalu...Zahwa tersentak! Wajah itu! Ya Allah! Tak mungkin Zahwa bisa melupakannya.!! "Sarah?" Ibu muda yang dipanggilnya menoleh terkejut. "Ya Allah Sarah.., kau tak ingat padaku?! Aku Zahwa. Temanmu saat di tsanawiyyah Al Birru!"" Sarah terbelalak!" Subhanalloh!" ucapnya. "Zahwa!" Mereka pun berpelukan. "Siapa nama anak-anak ini?" tanya Zahwa. Kini dara Palestina itu baru melihat sosok ketiga anak temannya dengan cermat. Anak yang paling besar sekitar delapan tahun ternyata pincang. Yang lain memiliki luka bakar membekas sekujur tubuh, sememntara anak yang paling kecil dan masih balita..tampaknya...mengalami patah tulang mencolok, sehingga harus selalu digendong! Benar!!
"Yang paling besar Muhammad, yang kedua Hisyam dan adiknya Haikal," Sarah terus tersenyum cerah. "Allahu Akbar, sepuluh tahun lebih kita tak bertemu." "Ya, sampai kini, kau tetap sahabatku yang paling baik. Tak ada temanku yang bisa setulus dan sebaik engkau!" kata Zahwa. Tetapi pikirannya melayang pada ketiga anak-anak itu. Mengapa? Mengapa ketiga anak Sarah ini cacat??! "Ayo ke rumahku, Zahwa!" Tak lama Corolla itu pun melaju menuju rumah Sarah.
Rumah Sarah sederhana namun sejuk, itu yang dirasakan Zahwa ketika pertama melangkahkan kakinya ke rumah Sarah. Tak ada hiasan lain kecuali kaligrafi. "Ini suamimu?" tanya Zahwa saat menatap satu-satunya foto yang ada di ruangan itu. Sarah mengangguk. "Mana dia? Bekerja?" Sarah menggeleng. "Mahmud syahid."
Zahwa bagai disengat listrik!" Polisi Palestina?" Bagaimana mungkin?" "Suamiku mengetahui konspirasi rahasia antara Mossad dan Musa Arafat, kepada polisi Palestina, untuk membunuh Ayyash," tutur Sarah datar. "Ia mencoba memberitahu Ayyash, namun anak buah Musa Arafat menjebak, dan menembaknya mati." Keduanya terdiam. Hening.
Zahwa tenggelam dalam kenyataan yang menyakitkan. Ia sudah memperkirakan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Tapi apa yang ia dengar melampaui semua perkiranannya. Sarah tersenyum," Sepuluh tahun kau tak di sini. Negeri ini masih mempertahankan kemuliannya walau para musuh Allah tak henti membuat makar. Perdamaian dan pemilu yang digembar gemborkan itu semu semata." "Tetapi.."
"Zahwa, satu-satunya yang masih dipercaya oleh rakyat hanyalah Hamas! Mungkin selama di Perancis, kau banyak mendengar berita sumbang tentang Hamas. Seolah hamas adalah gerakan teroris yang tak berperikemanusiaan! Percayalah, Zionis Israel-lah yang biadab! Lebih dari yang bisa kita bayangkan! Kau lihat Muhammad, Hisyam dan Haikal? Mereka korban kebiadaban dan kepengecutan pasukan Israel..." "Hah?" Hati Zahwa seperti dihantam palu godam! Sarah berkata dengan lembut namun menggetakan hati "Bukankah Allah berfirman dalam Al Quran, orang-orang yahudi tak akan rela sampai kita mengikuti mereka. yahudi juga suka mengubah perjanjian. Mereka tak mau memberikan kurma untuk kaum muslimin, apalagi sebuah negara! Maha benar Allah!" "Tapi ..PLO, Arafat..berusaha..damai..." "Zahwa, bukankah kau sarjana ilmu politik? Belumkah jelas bagimu bahwa orang yang kau kagumi itu tak lebih hanya perpanjangan tangan Zionis untuk mengkotak-kotak dan menbinasakan kita?" Mereka berdua lalu larut dalam pembicaraan panjang. Zahwa agak terkejut melihat Sarah begitu mengasai berbagai hal tentang Palestina. Tiba-tiba Zahwa resah. Resah sekali!
Saat pulang, ia kemudikan mobilnya dengan lambat. "Media-media dunia selalu berkata jelak tentang Hamas dan mengelukan kebijakan Arafat yang sebenarnya diarahkan Israel dan Amerika itu," kata-kata Sarah tergiang-giang di benaknya, "Apa yang diberitakan tak sesuai dengan kenyataan! Bahkan anakku hanyalah contoh dari banyak korban lainnya!"
Bodohnya aku selama ini! Pikir Sarah. Kesadaran baru mulai mengisi hatinya. Perasaan gusar sendri. Geram! Percuma saja selama ini ia belajar politik tetapi buta terhadap kenyataan politik yang ada. Dan...subhanalloh, ia malu pada Sarah! Ia malu pada Palestina negrinya tercinta karena tak pernah tahu apa sesungguhnya yang terjadi selama ia pergi. Sungguh!
Akhirnya pemilupun tiba. Tak seperti pesta demokrasi pada umumnya, Zahwa merasakan suasana yang lengang. "Jangan lupa untuk datang mengisi kotak suara!" pesan papa Kareem kemarin malang. Tetapi Zahwa hanya berkeliling dengan mobilnya. Pemilu macam apa ini, pikirnya ketika dilihatnya pasukan Israel turut mengawasi jalannya pemilu. Ia bertambah gusar saat mengetahui sebagian besar kandidat berasal dari partai Fatah, yang dipimpin Arafat. Padahal kantor pemilu juga dijalankan oleh orang-orang Fatah. Tidak ada komisi independen seperti yang semestinya terjadi. Zahwa merutuk dalam hati, pemilu macam apa ini! Sore harinya Zahwa tambah terkejut. Kotak suara hilang seusai pemungutan suara! "Di Nablus, ada kandidat independen yang dibunuh polisi Palestina ketika keluar dari kantornya!" kata Sarah sambil menyuapi anak-anaknya makan. "Sesuai skenario bersama AS-Israel, Arafat harus memenangkan Pemilu untuk menjaga proses 'perdamaian'.
Kian lama logika politis seperti it kian mudah difahami oleh Zahwa.
Tiba-tiba....BBBBRRRAAAAKK! BBRRAAKK! Zahwa, Sarah dan ketiga anaknya terkejut! Tiga orang mendobrak pintu! yang seorang berpakaian ala Hamas, berkaos lengan panjang dan mengenakan penutup muka. Dua yang lain mengenakan gamis putih dan sorban! Mereka bersenjata! "Yahudi pengecut! Bahkan harus menyamar untuk menangkapku!" teriak Sarah sinis. Zahwa terperangah. Refleks dipeluknya ketiga anak Sarah yang belum selesai makan itu.
"Ikut kami jika tak ingin bernasib sama dengan Ayyash atau Mahmud!" ujar salah seorang sambil menarik lengan Sarah kasar. Sarah berontak! Meludahi orang-orang itu! Zahwa bergerak ingin membantu. Tapi...bagaimana?
"Bawa anakku pergi! Cepaatt! Cepat Zahwa! Aku akan melawan mereka!" Zahwa bingung! Dilihatnya Sarah memukul, menggigit, menendang orang-orang itu! Dan ketika metanya menangkap kilatan pisau buah dikolong meja, Zahwa segera mengambilnya.
"Simon, angkat anak2 itu!" teriak salah satu yahudi itu. "Kita tembak di depan ibunya..ha..ha..ha..!" Sekuat tenaga Zahwa berusaha melindungi Muhammad, Hisyam dan Haikal! CRESH! Ia berhasil melukai lengan yang bernama Simon! "Ummi! Um..mii.."
Muhammad merangkul adik-adiknya, bersembunyi di balik kursi. "Bajingan semakin terdesak! Kini belasan tusukan menghujamnnya! Sarah terjerembab! Di sampingnya terbunuh pula seorang Yahudi! "Bajingan! Maju! Ayo maju!!" Zahwa histeris. Kedua orang Yahudi itu saling bisik. "Kita tinggalkan. Dia anak Kareem Abroro.." Dan mereka pun beranjak pergi. Terlambat! Dari belakang Zahwa meleparkan pisaunya! Tepat!! Seorang Yahudi lagi roboh! Sementara sisanya melarikan diri!!
Kini di sudut ruangan dilihatnya ketiga anak Sarah menangis berpelukan. "Ummi syahid..., jangan terus..menangis," bujuk Muhammad. Dada Zahwa menggelegak!
Tahukah papa, jumlah rakyat Palestina sekitar 4 juta jiwa. Sejuta di dalam dan 3 juta di luar Palestina. Dari sejuta penduduk itu hanya 48% yang mengikuti pemulu, kebanyakan pengikut Arafat. Jadi wajar bila ia menang 90% suara. Bila dihitung total, presiden Palestina in hanya didukung tak sampai 20% saja dari rakyatnya! Begitu pun diperolehnya dengan banyak..kecurangan." "Apa yang kau bicarakan?"
"Slamat papa, kini papa telah mejadi dewan parleman!" kata Zahwa sinis. Kareem Abror mengernyitkan dahi, memandang anaknya aneh. Dan tiba-tiba...
"Maaf.., tetapi saya akan..bergabung dengan HAMAS." suara Zahwa hampir tersekat di kerongkongan.
"Apa? Zahwa..., kau...mereka bodoh dan gila! Mereka teroris!" "Jangan bodohi saya lagi, papa. Mereka pejuang! Dan bagi pejuang tak ada perdamaian tanpa keadilan! Adilkah namanya bila penjajah Yahudi Israel yang sama sekali tak memiliki hak atas negri ini, disambut bagai pahlawan kalau memberikan kita sepetak Jericho, Gaza dan Jenin!? Perdamaian bodoh. Ini komspirasi internasional terhadap ummat Islam!"
"Keparat! Kurang ajar!" Kareem menampar Zahwa kuat-kuat! "Saya akan bergabung dengan mereka yang tak akan pernah menjual tanah airnya demi apa pun! Maafkan saya!!!" kata Zahwa tegar sambil mengusap darah yang mengalir dari bibirnya. Kareem Abror meludah dan membuang muka. "Pergi! Pergi dan jangan kembali !" katanya garang. Zahwa menatap wajah papa lama. Ia ingin menangis, tetapi kini bukan waktunya. Ya, ia tak akan menangis. Ia hanya perlu bangit dengan tenang dan berlalu dari situ. Muhammad, hisyam dan haikal tentu telah menunggunya. Lengang.
Ada sudut mata kareem yang pedih memandang sosok berabaya hitam berjilbab putih itu dari jauh. "Zahwa, anakku.., kau benar," bisiknya. Maafkan aku ...yang tak pernah sangguuup..."
Bersama Seorang Pemuda Penggali Kubur
Diriwayatkan dari Ibnu Hubaiq : Riwayat dari ayahku yang berkata, Yusuf bin Asbath pernah bertemankan seorang pemuda dari Teluk, yang tidak pernah berbincang-bincang dengannya (Yusuf) selama sepuluh tahun. Akan tetapi, Yusuf mengetahui kerisauan dan kecemasan hati pemuda itu dan juga ketekunannya melakukan ibadat pada siang mahupun malam hari. Kepada pemuda itu Yusuf pernah berkata, "Apa sebenarnya pekerjaanmu dahulu, sehingga aku lihat dirimu selalu tertunduk menangis?" "Dahulu aku adalah seorang penggali kubur," jawabnya. "Apa yang pernah kamu lihat saat berada di liang lahat?" tanya Yusuf meminta penjelasan. "Aku melihat rata-rata muka mereka dipalingkan dari arah kiblat, kecuali beberapa orang saja," kata pemuda itu. "Kecuali beberapa orang saja?" tanya Yusuf dengan penuh heran.
Setelah berkata demikian, Yusuf pun gelisah dan fikirannya tidak tenteram. Oleh itu dia memerlukan ubat untuk menyembuhkan kegelisahannya. Ibnu Hubaiq meneruskan ceritanya, "Ayahku berkata: Kami lalu memanggil doktor Sulaiman untuk mengubati Yusuf. Setelah mendapatkan perawatan yang teratur, Yusuf pun sihat kembali seperti sediakala dan dia pun berkata, "Kecuali hanya sedikit saja!" Yusuf terus-menerus mengucapkan demikian, dan lantaran itu dia mendapatkan perawatan terus agar fikirannya normal kembali. Ketika doktor Sulaiman selesai mengobati dan hendak pulang, Yusuf berkata kepada orang-orang yang menungguinya, "Apa yang mesti kalian berikan kepada doktor itu?"
"Dia tidak mengharapkan apa-apa darimu," jawab kami semua.
"Subhanallah! Kalian telah berani mendatangkan doktor kerajaan, akan tetapi, aku tidak memberikan sesuatu pun kepadanya," kata Yusuf.
"Berikan kepadanya uang beberapa dinar!" kata kami kepada Yusuf.
Ambillah ini dan berikan kepadanya serta tolong beritahukan kepadanya bahawa aku tidak memiliki sesuatu pun, kecuali sekadar ini, agar dia tidak berprasangka bahwa aku ini mempunyai harga diri yang lebih rendah daripada para raja," kata Yusuf.
Yusuf kemudian menyerahkan sebuah kantong berisi uang sebanyak lima belas dinar dan diberikannya kepadaku. Selanjutnya kuserahkan uang tersebut kepada doktor Sulaiman atas pertolongannya kepada Yusuf. Sejak peristiwa itu Yusuf akhirnya tekun menganyam tikar dari daun kurma hingga akhir hayatnya. Dan diriwayatkan dari Hubaiq yang mengatakan: Yusuf bin Asbath pernah berkata, "Dari ayahku, aku mendapatkan harta waris berupa tanah seharga lima ratus dinar yang terletak di daerah Kufah. Akan tetapi, pada akhirnya terjadilah perselisihan di antara saudara-saudaraku, kerana itu aku meminta pendapat kepada Hasan bin Shaleh. Hasan bin Shaleh lalu berkata kepadaku, "Aku tidak ingin kamu terlibat pertentangan dengan mereka, hanya disebabkan masalah tanah yang akan kita masuki kelak." Demikianlah atas saranan Hasan bin Shaleh itu, maka kurelakan tanah itu kepada mer
eka secara ikhlas kerana Allah SWT semata sebab aku menyedari bahawa diriku adalah bahagian daripada tanah.WANITA JELATA
Dengan keheranan sang Gubernor bertanya, "Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetangga engkau?"
Janda bermuka buruk itu menjawab, "Sebab yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya butuhkan bukan dinar melainkan bekal akhirat."
"Maksud engkau?" tanya sang Gubernor mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu."
Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu salat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal."
Dengan jawaban seperti itu, sang Gubernor merasa telah disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah rauh, tak kan habis dimakan keluarganya sampai tujuh keturunan. Sedangkan umurnya sudah di atas setengah abad, dan Malaikat Izrail sudah mengintainya.
Akhirnya sang Gubernor jatuh cinta kepada perempua lusuh yang berparas hanya lebih bagus sedikit dari monyet itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang besar tak habis pikir, bagaimana seorang gubernor bisa menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang jelek itu.
Maka pada suatu kesempatan, diundanglah mereka oleh Gubernor dalam sebuah pesta mewah. Juga para tetangga, trmasuk wanita yang membuat heboh tadi. Kepada mereka diberikan gelas crystal yang bertahtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gubernor lantas memerintah agar mereka membanting gelas masing-masing. Semuanya terbengong dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu. Namun, tiba-tiba trdengar bunyi berdenting, pertang ada orang gila yg melaksanakan perintah itu. Itulah si perempuan berwajah buruk. Di kakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan keheranan.Gubernor lalu bertanya, "Mengapa kaubanting gelas itu?"
Tanpa takut wanita itu menjawab, "Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa Tuan berkurnag lantaran perintah Tuan tidak dipatuhi."
Gubernor terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu.
Sebab lainnya?" tanya Gubernor.Wanita itu menjawab, "Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Alquran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Tuan."
Gubernor kian takjub. Demikian pula paran tamunya. "Masih ada sebab lain?"
Perempua itu mengangguk dan berkata, "Ketiga, dengansaya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Gubernornya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya."Maka ketika kemudian Gubernor yang kematian istri itu melamar lalu menikahi perempuan bertampang jelek dan hitam legam itu, semua yang mendengar bahkab berbalik sangat gembira karena Gubernor memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada gubernornya, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya.
UMMU SULAIM PERISAI RASULULLAH

Ketika pulang dari perjalanan dari Syam (Syria), Malik menjumpai Ummu Sulaim binti Milhan isterinya telah masuk Islam. Tentu saja dia marah. "Apakah kau sudah berpindah agama?" tanya Malik.
"Tidak, aku tidak berpindah agama. Tetapi aku percaya dengan anak laki-laki ini" jawab isterinya.
Yang dimaksud anak laki-laki itu adalah Anas bin Malik Al Anshary, yang lahir di Madinah pada tahun ke-10 sebelum Hijriyah.Mendengar isterinya mengajarkan syahadat kepada anak lelakinya, Malik yang kafir itu semakin emosi.
Dengan muka merah padam dia membentak isterinya."Jangan kau rusak anakku ini!""Aku tidak merusaknya" jawab isterinya.
Selang beberapa hari, Malik pergi lagi ke Syam. Di sana dia dihadang musuh-musuhnya hingga akhirnya tewas terbunuh. Sejak itu Ummu Sulaim berikrar, "Aku tidak akan menceraikan Anas dari menyusui hingga ia meninggalkannya sendiri. Dan aku tidak akan kawin lagi sebelum dia dapat duduk dan dapat menyuruh aku." katanya.Menanggapi tekad ibunya, Anas selalu berdoa kepada Allah agar berkenan membalas jasa dan amal ibunya.
Sebagai seorang janda, Ummu Sulaim cukup teguh pada pendiriannya. Ketika seorang lelaki, Abu Talkhah datang meminangnya, dia menolaknya. Tekadnya, dia harus berhasil menaklukkan calon suaminya dari musyrik menjadi muslim."Abu Talkhah, Allah mengetahui bahwa aku sungguh cinta kepadamu, namun sayang sekali kau masih kafir, sedang aku ini muslimah. Jika kamu mau memeluk Islam, aku tidak keberatan menerima lamaranmu. Aku tidak akan menuntut emas kawin kecuali keislamanmu itu, tiada yang lain." Katanya.Dengan perasaan malu dan kecewa, Abu
Talkhah meninggalkan Ummu Sulaim karena keberatan masuk Islam. Tetapi karena dia sudah terlanjur cinta, pada kesempatan lain dia datang kembali, namun Ummu Sulaim tetap pantang menyerah.
"Abu Talkhah, apakah anda tidak malu menyembah kayu?" katanya.
Mendengar ucapan itu, Abu Talkhah menjadi sadar dan insaf serta berikrar memeluk Islam seraya mengikrarkan syahadatain.
Mendengar ucapan itu, Ummu Sulaim segera memanggil Anas anaknya. "Wahai Anas, kawinkan Abu Talkhah ini"
Demikianlah, berkat kebijaksanaan Ummu Sulaim, Abu Talkhah memeluk Islam. Bahkan akhirnya di kenal sebagai pembantu dan pendukung Rasulullah yang gagah berani dalam jihad fi sabilillah serta ikut menghadiri bai'at Aqabah.Ummu Sulaim sendiri dikenal sebagai wanita yang ikut terjun langsung dalam berbagai pertempuran bersama Rasulullah. Dialah yang memberi pertolongan kepada para prajurit muslim dengan memberi makanan dan minuman, serta merawat mereka yang terluka. Bahkan bersama Abu Talkhah suaminya, ibu ini pernah bertempur langsung merebut senjata musuh untuk membentengi Rasulullah.
SANG SUFI
Salah seorang anaknya pernah bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?""Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil," jawab sang sufi yang tidak terkenal itu. "Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia Cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."
Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya, "Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih selesa. Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?"
Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.
Kemudia anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja."
KISAH NABI MUSA DENGAN SEORANG PEZINA
Ada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk".
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia Berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya."
"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa a.s. terkejut.
"Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya... telah berzina.
"Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan,
"Dari perzinaan itu saya pun...lantas hamil. Setelah anak itu lahir,langsung saya... cekik lehernya sampai... tewas," ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.
Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik, "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan.Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.
Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?"
"Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran."Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal.
Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina"
Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.
Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya. (Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy)
Dalam hadis Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah. Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.
Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita penzina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaiik.



