subscribe to RSS

EBOOK, BOOKS, FREE DDOWNLOAD E-BOOK, DOWNLOAD GRATIS, NOVEL AGATHA CHRISTIE, EBOOKS BISNIS

NABI SULAIMAN DAN SEMUT

Posted by Han on Friday, August 13, 2010

Sulaiman bin Daud adalah satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah SWT sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud Hud dan juga boleh memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An Naml, ayat 18-26 adalah contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan akan keistimewaan Nabi yang sangat kaya raya ini. Firman Allah, Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata, hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa kerana mendengar perkataan semut itu. Katanya, Ya Rabbi, limpahkan kepadaku karunia untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; karuniakan padaku hingga boleh mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh. (An-Naml: 16-19)

Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut, Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun? Sebesar biji gandum, jawabnya.

Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebahagian biji gandum itu. Mengapa engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya? tanya Nabi Sulaiman. Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah, jawab si semut. Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahawa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Kerana itu, aku harus tinggalkan sebahagian sebagai bekal tahun berikutnya.

Nabi Sulaiman, walaupun ia sangat kaya raya, namun kekayaannya adalah nisbi dan terbatas. Yang Maha Kaya secara mutlak hanyalah Allah SWT semata-mata. Nabi Sulaiman, meskipun sangat baik dan kasih, namun yang Maha Baik dan Maha Kasih dari seluruh pengasih hanyalah Allah SWT semata. Dalam diri Nabi Sulaiman tersimpan sifat terbatas dan kenisbian yang tidak dapat dipisahkan; sementara dalam Zat Allah sifat mutlak dan absolut.

Bagaimanapun kayanya Nabi Sulaiman, dia tetap manusia biasa yang tidak boleh sepenuhnya dijadikan tempat bergantung. Bagaimana kasihnya Nabi Sulaiman, dia adalah manusia biasa yang menyimpan kedaifan-kedaifannya tersendiri. Hal itu diketahui oleh semut Nabi Sulaiman. Kerana itu, dia masih tidak percaya kepada janji Nabi Sulaiman ke atasnya. Bukan kerana khuatir Nabi Sulaiman akan ingkar janji, namun khuatir Nabi Sulaiman tidak mampu memenuhinya lantaran sifat manusiawinya. Tawakal atau berpasrah diri bulat-bulat hanyalah kepada Allah SWT semata, bukan kepada manusia.

NABI NUH ALAIHISSALAM RASUL PERTAMA

Posted by Han on

Sekian lamanya kaum Nuh 'Alaihis Salam menyembah berhala, mereka menjadi-kannya sebagai sesembahan yang diharapkan darinya kebaikan dan memohon perlindungan kepadanya dari segala kejahatan, menyerahkan segala urusan dalam kehidupan ini kepadanya. Mereka berdo’a kepada berhala tersebut dengan sebutan Wadd, Suwa’ dan Yaghuts, dan pada kesempatan lain dengan sebutan Ya’uq dan Nasr sesuai dengan apa yang diilhamkan oleh kebodohan dan hawa nafsu mereka. Oleh karena itu Allah mengutus Nabi Nuh 'Alaihis Salam , seorang yang jelas ucapan-nya, cerdas dan lembut, Allah telah memberikan kekuatan kepadanya untuk berdebat dan kemampuan mengemuka-kan argumentasi untuk mematahkan semua alasan yang disampaikan oleh kaumnya.

Nabi Nuh 'Alaihis Salam menyeru kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, namun mereka berpaling. Ia juga memberikan peringatan dengan siksa yang pedih, serta memberikan kabar gembira dengan ganjaran yang besar namun mereka tetap buta dan tidak mau mendengar, lagi menyombongkan diri.

Demikianlah Nabi Nuh 'Alaihis Salam menyeru, memaparkan argumentasi dan bukti-bukti akan kebenaran risalah yang diembannya sehingga berimanlah ke-padanya sebagian kecil dari kaumnya.

Kesabaran Nabi Nuh 'Alaihis Salam Atas Ejekan Kaumnya

Di antara kaum Nabi Nuh 'Alaihis Salam berkata: “Kamu tiada lain adalah manusia seperti kami, dan salah satu di antara kami, kalau Allah menghendaki untuk mengutus seorang rasul, maka pastilah Dia akan mengutus seorang malaikat, dan niscaya kami akan mendengarkan seruannya, memenuhi panggilannya, dan orang-orang yang telah mengikuti kamu tiada lain adalah orang hina, rendahan, dan lemah akalnya tidak dapat membedakan mana yang baik dan tidak matang pikirannya, kalau apa yang engkau bawa adalah baik, pastilah kami telah mendahului mereka, dan apabila yang engkau katakan adalah benar, niscaya kami akan lebih dahulu beriman dan mengikuti petunjukmu!”

Mereka terus-menerus menentang dan tak henti-hentinya mengejek dengan berbagai macam cara dan kata. Dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati Nabi Nuh 'Alaihis Salam menjawab: “Apa pendapat kalian, jika aku benar-benar dalam kebenaran dan telah tampak bukti yang nyata tentang kebenaran apa yang aku bawa, dan Allah telah memberikan rahmat dan keutamaan kepada kami dari-Nya, kemudian hati kalian buta dan tertutup, dan kalian berusaha menghalangi matahari dengan telapak tangan kalian, atau menghancurkan bintang-bintang dengan tangan kalian, apakah saya akan mampu menekan kalian supaya beriman, ataukah saya mempunyai kekuatan untuk memaksa kalian agar menjadi orang beriman?”

Akan tetapi mereka hanya mau beriman jika Nabi Nuh 'Alaihis Salam mau mening-galkan kaumnya yang mereka anggap sebagai orang rendahan dan derajat budak, inipun sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat karena hati mereka memang ingkar. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Nabi Nuh 'Alaihis Salam dan dijawab bahwa sesungguhnya da’wah yang ia bawa adalah da’wah yang menyeluruh untuk semua, sama kedudukan orang yang ternama dengan yang tidak, orang yang kaya dan faqir, pimpinan dan orang yang dipimpin. Selain itu merekalah yang selama ini membantunya berdakwah dan menolong ketika orang-orang memusuhi.

Ketika perdebatan telah memun-cak dan mereka telah bosan serta hati mereka telah merasa sesak, mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancam-kan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. 11:32)

Menjawab tantangan kaumnya, Nabi Nuh 'Alaihis Salam bisa mengatakan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak bisa mendatangkan adzab. Beliau menga-takan: “Wahai kaumku, ketahuilah bahwa tempat kembali segala sesuatu hanyalah kepada Allah, jika Dia menghendaki maka Dia akan mem-berikan petunjuk kepada kalian dan jika Dia menghendaki Dia segera mendatangkan adzab dan menyiksa kalian, dan jika Dia menghendaki maka Dia akan menangguhkan kalian agar nantinya kalian mendapatkan siksaan yang sangat pedih dan sangat dahsyat.”

Lalu Nabi Nuh 'Alaihis Salam mengadukan segala kesedihan dan kepedihan yang ia hadapi kepada Allah dan memohon pertolongan dan petunjuk-Nya sehingga Allah mewahyukan kepada-Nya: “Bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman diantara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. 11: 36)

Wahyu Untuk Membuat Perahu

Ketika Nabi Nuh 'Alaihis Salam mengetahui dari Allah bahwa Dia telah menetapkan tidak ada yang akan beriman lagi kepadanya dan bahwa Allah telah menutup hati mereka sehingga mereka tidak akan tunduk kepada bukti apapun dan tidak akan beriman, maka habislah kesabaran Nabi Nuh 'Alaihis Salam , dan ia pun berdo’a memohon kepada Allah agar membinasakan orang-orang kafir dari kaumnya dan mengampuni kesalahannya, kedua orang tuanya dan orang-orang yang bersamanya (QS. 71: 26-28).

Lalu Allah mengabulkan do’a Nabi Nuh dan mewahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zhalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. 11:37)

Maka Nabi Nuh 'Alaihis Salam mengambil tempat yang jauh dari kota, dan mulai membuat perahu, akan tetapi dia tidak luput dari olokan dan ejekan kaumnya.

Sebagian mereka berkata: “Wahai Nuh, sebelum ini engkau mengaku bahwa dirimu adalah seorang rasul, lalu bagaimana bisa sekarang engkau menjadi tukang kayu, apakah engkau sudah tidak menjadi nabi atau engkau hendak beralih pekerjaan menjadi tukang kayu?”

Sebagian lain berkata: “Kenapa engkau membuat kapal jauh dari laut dan sungai?Apakah engkau telah menyiapkan sapi untuk menariknya ataukah engkau akan menyuruh angin untuk membawanya?”

Akan tetapi Nabi Nuh berpaling dari ejekan mereka, dan berkata: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejekmu sebagai-mana kalian telah mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakan dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. (QS. 11: 38-39)

Dia menuju kapal yang sedang dia buat, memperbaiki dan menyambung satu dengan yang lainnya sehingga menjadi bahtera yang kokoh, dan menunggu apa yang telah dijanjikan oleh Allah, maka Allah mewahyukan kepadanya: “Apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. (QS. 11:40)

Adzab Dari Allah Yang Dijanjikan

Benarlah apa yang diancamkan oleh Allah, seketika saja angkasa dipenuhi awan tebal, lalu langit menurunkan hujan dan bumi mengeluarkan air yang banyak, maka terjadilah banjir besar yang tidak pernah dikira, dan Nabi Nuh 'Alaihis Salam telah berada di bahtera bersama mereka yang telah beriman serta sepasang dari setiap binatang serta mengucapkan: Bismillahi majreha wa mursaha, terkadang bahteranya dibawa oleh angin yang lembut terkadang dengan angin yang kencang. Sementara itu orang-orang yang kafir terus bergelut dengan air bah, mereka berusaha mengalahkan kematian namun kematian mengalahkan mereka, mereka berusaha membanting ombak namun ombaklah yang membanting mereka hingga akhirnya mereka hilang ditelan air dan lenyap dari pandangan, menghilang sebagaimana rahasia yang selalu tersimpan dalam hati. Ombak telah menjadi kuburan bagi mereka sedangkan buih menjadi kain kafannya.

Putra Nabi Nuh 'Alaihis Salam

Dari atas kapal Nabi Nuh melihat putranya Kan’an yang tidak beriman kepadanya sedang berjuang keras melawan ombak dan berusaha untuk berlindung di sebuah gunung, lalu beliau memanggilnya dan mengajak-nya untuk bergabung kepadanya dengan beriman terhadap apa yang dibawanya, beliau berkata: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir”. (QS. 11:42)

Akan tetapi seruan dan ajakan tersebut sama sekali tidak mendapat-kan tempat di hati Kan’an dan dia menyangka bahwa dia akan selamat dari apa yang dihadapinya dan berkata: “Menjauhlah engkau dariku karena aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Lalu Nabi Nuh berkata kepadanya sedangkan dia telah dirundung kesedihan dan diliputi oleh kepedihan: “Wahai anakku! Tidak ada yang me-lindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”.

Namun Kan’an tetap keras kepala, nasehat sang ayah yang mencintainya tak digubris, lalu tiba-tiba saja ombak besar menimpa Kan’an dan memisahkan keduanya. Nabi Nuh tidak dapat melihatnya lagi, maka bersedihlah dia lalu menghadap kepada Allah tempat kembali orang yang dirundung duka dan Penolong orang yang kesusahan, dia berkata: “Ya Allah sesungguhnya anakku adalah bagian dari keluargaku, dan Engkau telah berjanji –dan janji-Mu adalah benar– bahwa Engkau akan menyelamatkanku dan orang-orang yang beriman dari keluargaku dan Engkau adalah seadil-adilnya yang memberi hukuman.”

Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya adalah perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. 11: 46)

Pada saat itulah Nabi Nuh menyadari bahwa rasa kasih sayangnya dan perasaannya telah memalingkannya dari kebenaran, maka dia pun mohon ampun kepada Allah dan perlindungan dari kemurkaan-Nya.

Akhirnya bahtera Nabi Nuh pun berlabuh di atas gunung Judiy, dan dikatakan kepada Nuh: ”Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu. “. (QS. 11:48).

Mentaati Perintah dan Meyakini Rahmat

Posted by Han on

Allah tidak membutuhkan amal hamba-Nya. Dia memerintah hamba-Nya untuk beramal, tak lain agar ia mengakui bahwa dirinya lemah (i'tiraf) dan selalu membutuhkan pertolongan. Pengakuan macam ini sangat penting.

Diceritakan bahwa ada dua ruh disiksa di neraka. Allah kemudian memerintahkan agar keduanya dikeluarkan. Setelah keluar, Allah bertanya kepada mereka, "Apakah yang menyebabkan kalian masuk neraka?"

"Nafsu kami," jawab mereka.

"Bukankah telah Kularang kalian bermaksiat kepada-Ku? Bukankah Aku telah mengutus rasul-rasul-Ku dengan bukti-bukti nyata? Dan bukankah telah Kukatakan lewat lisan para ulama bahwa siapa saja yang taat akan memperoleh surga, istana, wildan dan bidadari, sedang orang yang bermaksiat akan tinggal di neraka bersama Qorun, Firaun dan Haman?"

"Benar, tetapi kami tidak taat dan selalu bermaksiat kepada-Mu."

"Kembalilah kalian ke neraka, dan rasakanlah siksa-Ku," perintah Allah.

Ruh yang satu bergegas kembali, namun ruh yang lain berjalan dengan enggan sambil sesekali menoleh ke belakang.

"Mengapa kamu berjalan cepat-cepat?" tanya Allah kepada ruh yang pertama.

"Ya Tuhan, dahulu aku selalu membangkang perintah-Mu, sekarang sudah seharusnya aku taat kepada-Mu."

"Dan kamu, mengapa kamu tidak segera kembali ke neraka?" tanya Allah kepada ruh kedua.

"Aku sangat mengharap ampunan-Mu, karena mustahil Kamu akan mengembalikan kami ke neraka setelah membebaskan kami darinya."

"Masuklah kalian berdua ke dalam surga. Masuklah, karena kamu telah mentaati perintah-Ku. Dan masuklah, karena kamu percaya pada rahmat dan kemurahan-Ku."

---------------------
Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul
Asyraf, Kisah dan Hikmah

Cerita Seorang Teman

Posted by Han on Saturday, August 7, 2010

Senin, 27 desember lalu, saya berangkat ke banda aceh untuk liputan buat associated press television news (salah satu media tempat saya menjadi kontributor) ternyata apa yang saya saksikan disana jauh lebih mengenaskan daripada sekedar menyaksikannya lewat layar kaca. Di sini saya bisa berinteraksi langsung dengan korban, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Dengan yang hidup saya masih bisa berbincang-bincang seadanya (tak etis rasanya saya menanyai mereka panjang lebar karena mereka baru tertimpa bencana, dan saya tahu mungkin mereka belum makan sejak minggu pagi saat bencana itu terjadi). Saya juga bisa merasakan langsung kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah kuyu yang kecapaian dan masih trauma itu. Mungkin kalau saya mengerti bahasa aceh kesedihan itu bisa jadi berlipat- lipat. Sedangkan dengan si mati saya bisa melihat langsung kondisi mereka yang sangat mengenaskan, mencium aroma yang konon bisa “melekat” di tubuh anda selama sepekan. Saya mendapat informasi ini dari seorang dokter yang kebetulan sering berurusan dengan mayat.

Dalam kunjungan singkat itu (sekitar 2,5 jam saja, sekitar satu jam saya habiskan dengan terbengong di bandara iskandar muda karena tak adanya alat transportasi ke kota) saya sempat menyaksikan kepanikan luar biasa dari warga kota serambi mekah itu. Beberapa tenda militer didirikan tak jauh dari pintu keluar bandara. Di jalan-jalan warga bersileweran seperti orang ling-lung. Mungkin masih trauma, atau mungkin ada keluarganya yang hilang. Atau malah sudah mati…

Kondisi ini memaksa kendaraan yang melintas untuk berjalan pelan. Waktu biasa sekitar 20 menit dalam perjalan dari bandara ke kantor gubernuran terasa menjadi lebih lama.

Di lambaro saya bersama rombongan (3 dokter dari medan, seorang anggota DPR RI asal Aceh, kadis kesehatan pemprov. NAD, dan 2 jurnalis kantor berita Xinhua Beijing) singgah di lokasi pemakaman massal. Saat tiba disana, areal sekitar 20 m x 15 m itu sedang digali dengan menggunakan excavator. Penggalian belum selesai, 5 kantong berisi mayat teronggok di pinggir lubang raksasa itu. Sekitar 5 menit mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan.

Semakin jauh mendekati kota suasana chaos semakin terasa. Crowd manusia yang kebingungan semakin banyak terlihat. Tak sedikit dari mereka yang membawa buntalan-buntalan besar. Mungkin pakaian, atau harta yang tersisa. Mobil-mobil dan sepeda motor lalu lalang dengan lampu dihidupkan. Sesekali ambulans melintas kencang. Entah membawa korban yang masih hidup, atau mayat yang sudah mulai membengkak. Saya tidak sempat memeriksa.

Sebelumnya saya dengar banyak beredar rumor bakalan terjadi gempa dan tsunami susulan. Berita-berita seperti ini tentu menyesatkan karena bisa saja menimbulkan hal tak diinginkan. Entah siapa yang menghembuskan, yang jelas banyak warga yang menjadi korban. Mungkin karena mereka masih trauma. Sedikit saja terdengar jeritan, “air…” niscaya orang-orang langsung berlarian menyelamatkan diri. Si anggota DPR RI sempat bercerita kalau dia juga sempat menjadi korban. Mendekati bundaran lambaro di aceh besar aura kehancuran dan kematian semakin terasa. Beberapa kali saya melihat mayat teronggok di pinggir jalan. Aroma udara yang terhirup juga mulai tak sedap. Saya menduga pasti ada konsentrasi pengumpulan mayat. Dugaan saya benar. Di sebelah kiri simpang lambaro yang dikenal dengan sebutan bundaran itu, tepatnya di depan kantor PMI teronggok sekitar 700 an mayat dari berbagai tempat di kota Banda Aceh.

Ya tuhan… Saya hampir tak percaya dengan penglihatan sendiri. Selama saya bekerja sebagai jurnalis inilah konsentrasi mayat terbanyak yang saya lihat! Mayat-mayat itu membusuk lebih cepat karena terendam air. Saya sempat terbodoh sebentar, apalagi saat melihat jejeran mayat anak kecil (mungkin berusia 5 tahunan). Ada lagi mayat anggota polisi yang masih berpakaian lengkap. Ada mayat seorang wanita yang biji matanya hampir mencelat. Ada mayat yang mulutnya masih mengeluarkan darah dan buih…

Ah… Saya tidak tahu kenapa saya begitu kuat siang itu. Entah dimana air mata saya. Sebelumnya saya mendengar cerita seorang kameramen Sctv yang menangis sambil mengambil gambar. Ada juga cerita seorang jurnalis lain yang sampai tak sanggup mengambil gambar. Bisa anda bayangkan?

Tapi saya teringat saya tidak punya waktu banyak disitu. Apalagi si pemilik mobil kijang yang kami tumpangi juga sedang tergesa-gesa hendak melanjutkan perjalanan mengantarkan 3 orang dokter yang bersama saya itu. Akhirnya camcorder saya hidupkan dan lensa kamera mulai saya arahkan dengan beberapa variasi shoot. Kamera saya juga sempat merekam seorang bapak yang berusaha mengenali sesosok mayat anak kecil dengan meraba-raba bagian belakang kepalanya. Mungkin dia berharap bisa mengenali si anak dari tanda lahir di belakang kepala itu. Sejenak dia seperti tidak yakin kalau itu putranya. Dia terdiam. Tapi tiba-tiba dia menangis kencang dan terisak. Sayang saya tidak mengerti ucapannya. Mata saya sempat berkaca-kaca…

Sore itu orang-orang hilir mudik berusaha mengenali mayat demi mayat. Sedangkan tentara dan relawan palang merah Indonesia mengangkati mayat ke truk untuk diantarkan ke tempat pemakaman. Truk lain masuk ke lokasi mengantarkan mayat baru. Entah dari mana. Pasokan mayat sepeti tak berhenti. Sinar matahari yang lumayan terik membuat aroma tak sedap semakin menyeruak. Untunglah seorang teman yang terbiasa dengan liputan yang berhubungan dengan orang mati pernah memberikan resep. Saat saya coba ternyata memang mujarab.

“Kalau berada di dekat mayat, bagaimanapun kondisi dan bau nya, jangan sekali-kali membuang ludahmu. Karena itu bisa memancing muntah. Sebaiknya telanlah ludahmu kalau merasa ingin muntah, bagaimanapun mualnya. Mudah-mudahan kau tak akan muntah,” kata si teman.

Teman yang memberikan resep adalah stringer salah satu kantor berita asing di NAD. Ingat dia saya sempat kuatir karena saya belum melihat seorangpun jurnalis yang saya kenal disana. Ada cerita kalau kebanyakan para jurnalis tinggal di daerah dekat pantai. Padahal itulah lokasi yang paling ringsek dihantam tsunami. Saya ngeri membayangkan kalau dia ikut menjadi korban.

Perjalanan lalu berlanjut. Konsentrasi orang semakin banyak. Di sebuah SPBU saya melihat antrian panjang orang. Tak sedikit dari mereka membawa jirigen plastik. Antrian itu semakin tak tertib. Petugas SPBU sepertinya sengaja menjatah karena persediaan tak banyak. Di sebelah kiri dan kanan jalan saya melihat gedung permanen bertingkat yang rubuh karena gempa. Kalau tidak salah, bangunan yang di sebelah kiri gedung keuangan dan yang di sebelah kanan bangunan gedung asuransi. Saya ngeri membayangkan seandainya bencana terjadi pada saat hari kerja. Berapa banyak korban yang bakalan tertimpa?

Oia, si Kadis kesehatan yang menyetir mobil yang kami tumpangi cerita kalau air (bah) sampai ke lokasi yang saya lihat. Padahal jarak bibir pantai dengan tempat tersebut hampir mencapai 15 kilometer. Sebegitu jauh, tapi air sampai kesitu. Tinggi pula lagi. Saya bisa melihat bekas air bercampur lumpur dari tembok-tembok itu…

Sampah-sampah dan kayu-kayu teronggok di pinggir jalan membuat pemandangan semakin kumuh. “Tadi pagi sampah-sampah masih di tengah jalan. Tapi barusan dibersihkan pakai buldoser,” tambah si kadis. Beberapa mayat masih teronggok di pinggir jalan.

Sayang saya tak bisa melihat detail ke seluruh tempat karena duduk terjepit di tengah-tengah mobil. Saya juga tak bisa mengambil gambar dengan posisi seperti itu. Ah, seandainya tadi saya bisa mencarter/ menyewa sebuah sepeda motor untuk berjalan sendiri. Tentu gambar yang saya dapat bisa jauh lebih bagus. Tapi saya ingat juga tak punya waktu lama karena paling tidak mesti mengirimkan kaset untuk segera dikirimkan ke jakarta.

Mobil kami lalu berbelok mengarah ke kantor gubernuran. Si Kadis rupanya hendak bertemu seseorang di sana sehingga tak sempat membawa kami berkeliling lebih jauh. Di pendopo gubernuran sudah banyak warga yang mengungsi. Tempat itu memang jauh lebih manusiawi dibanding tempat-tempat yang saya lihat sebelumnya.

Dalam sekian menit itu saya sempat menimbang-nimbang untuk terus jalan sendirian atau ikut balik ke bandara dengan rombongan Wapres Jusuf Kalla. Tapi tenggat waktu memaksa saya mengambil keputusan cepat. Apalagi cuma ada satu bus yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke bandara.

Pertimbangannya, kalau saya tinggal saya mesti mencari sepeda motor untuk dicarter. Jangan berharap ada angkot atau taksi disana. Kalau saya tinggal, saya pasti akan kesusahan mencari penginapan dan makanan. Jangankan untuk saya, warga setempat saja sudah 2 hari tidak makan. Belum lagi saya betul-betul dengan medan banda aceh. Saya pernah ke kota ini hampir 17 tahun lalu. Banyak perubahan bukan ?

Melihat orang-orang mulai menaiki bus yang akan kembali ke bandara naluri saya memaksa untuk ikut. Sempat saya kuatir, bagaimana kalau paspampres memaksa saya untuk turun? Tapi saya teringat deadline untuk mengirimkan kaset hasil rekaman. Tanpa berpikir panjang lagi saya ikut naik ke bus. Di dalam saya melihat Najwa shihab (presenter metro TV), beberapa wartawan dan fotografer lain dan seorang reporter perempuan yang membawa-bawa camcorder berstiker tv7. Belakangan saya tahu kalau dia ternyata Uni Z. Lubis. Perjalanan setengah jam kembali ke bandara ternyata belum berbeda dengan saat saya menuju gubernuran tadi, selain orang-orang semakin banyak dan jalanan semakin padat. Saat melintas dari lokasi pemakaman massal saya sempat melihat kalau pemakaman belum dilakukan. Padahal sore itu rencananya mesti dikuburkan karena mayat bertambah dan yang jelas semakin menebar bau tak sedap. Saya berharap iring-iringan mobil Wapres singgah di situ. Tapi rombongan jalan terus.

Rombongan akhirnya berhenti di hanggar Lanud Iskandar Muda. Rupanya wapres mau melihat pasokan bantuan yang baru tiba dari Medan. Sore itu, 1 pesawat hercules baru saja landing membawa ratusan kardus makanan dan obat-obatan. Prajurit TNI tampak hilir mudik mengangkuti kardus-kardus itu dari lambung pesawat. Tak lama Wapres berangkat naik helikopter untuk meninjau beberapa lokasi yang tak terjangkau lewat jalan darat.

Kesempatan itu lalu saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan Kapolda NAD Irjen Bachrumsyah. “bencana ini memang sangat mengerikan dik. Saya juga turut menjadi korban. Saya kehilangan kontak dengan banyak saudara-saudara saya. Saya tak bisa berharap banyak. Kalau mereka masih hidup tentu mujizat. Kalaupun sudah tak ada, saya tak bisa berbuat apa-apa,” katanya pada saya.

Polisi berbintang dua dan berkumis lebat itu sepertinya memang sedang depresi ringan. Wajar-wajar saja karena dia mesti berkeliling kesana- kemari. Belum lagi laporan banyak anak buahnya yang hilang. Termasuk sekitar 1 kompi saat mereka mau apel pagi di minggu naas itu.

Kelelahan terpancar dari wajahnya. Celana lapangan yang dikenakannya belepotan lumpur. Sangat jarang saya melihat pemandangan seperti itu. Menyadari itu saya urungkan untuk menanyai hal-hal lain.

Sore menjelang malam itu juga, sekitar pukul 18.30 akhirnya saya jadi terbang ke medan menumpang pesawat pelita air yang disulap menjadi pesawat RI-2. Sebelumnya saya sempat cemas, bagaimana saya mengirimkan kaset saya. Untuk menumpang di pesawat wapres rasanya mustahil karena saya belum diregistrasi.

Sambil mencari akal bagaimana caranya untuk ikut pulang tiba-tiba seorang bapak menegur saya. Saya tidak mengenalnya, selain baju safari coklat yang dikenakannya dan pin kecil di ujung kerahnya. Seingat saya, seluruh anggota pasukan pengamanan presiden/ wakil presiden mengenakan pin tersebut. Tapi, dia terlihat lebih tua dari anggota paspampres lainnya.

“Mau pulang dik?” katanya sambil menepuk pundak saya.

“Iya pak, kalau memang ada seat,” kata saya ragu-ragu.
“Ya udah, kalau mau pulang ikut saja. Jangan berlama-lama lagi. Ayo ikut aja,” katanya ramah.

Mendengar tawaran tersebut saya berbinar dan melangkah pasti ke tangga pesawat. Akhirnya pikiran saya soal bagaimana mengirimkan kaset mendapat jawaban.

Jam 19.00 pesawat meninggalkan Banda Aceh. Saya masih kepingin kembali kesana, mungkin dalam waktu dekat. Rasanya saya ingin menebus kesalahan tidak sempat melakukan reportase lengkap. Selain kaset berdurasi sekitar 20 menit. Sebagai seorang jurnalis ini sebenarnya kesalahan yang tak bisa ditolerir.

Satu pertanyaan terus membayangi saya selama 45 menit di udara, bahkan sampai hari ini saat saya mengetik di sebuah warnet tak jauh dari rumah saya setelah seharian menongkrongi posko bencana di Lanud AURI Medan.

Kenapa pemerintah cenderung lambat menangani bencana ini? Apalagi setelah beberapa pengungsi yang selamat dan pindah ke medan yang curhat mengatakan belum makan dan mendapat air bersih hampir 3 hari belakangan. Jangankan makanan, snack pun hampir tidak ada.

“Kami sampai mesti mengorek-ngorek lumpur siapa tau ada makanan yang terbenam,” kata si pengungsi tadi siang kepada saya. Ucapannya tentu membuat saya terhenyak, apalagi setahu saya pasokan makanan sudah mulai dikirimkan sejak sehari sebelumnya. Buat apa makanan itu sampai kesana kalau tak segera didistribusikan?

Sampai tadi malam pasokan makanan dan obat-obatan masih terus masuk ke posko dan “tertimbun” disitu.

Kenapa semuanya terasa sangat lambat? Sikap pemerintahan Srilangka membuat saya iri. Mereka cepat tanggap walau cuma sebuah negara kecil. Militer dikerahkan untuk mengevakuasi korban. Baik yang masih hidup atau sudah mati. Mereka juga dikerahkan untuk mendistribusikan pasokan bantuan makanan dan obat-obatan. Mereka bisa kenapa kita tidak? Ayo kita bantu mereka yang jadi korban sebisa kita.

Sayang saya tak sempat menanyakannya kepada Mr. President saat beliau megunjungi posko Satkorlak bencana aceh di Lanud AURI Medan Selasa malam tadi.



Lia achmadi
Pt. Radio delta insani
021 - 7278 4033

Kisah dari India

Posted by Han on

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran. Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata,

“Boleh Ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta” agak ragu-ragu sejenak.

“Akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab “Oh pasti, sayang.”
Sindu bertanya sekali lagi, “betul nih ayah ?”

“Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.”

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata:

“Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu menjawab ," Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok.

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk.

"Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak ?"

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya.

"Tidak ada yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu.

"Tolonglah. Kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami ?"

Sindu dengan menangis berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak, jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.

"Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus."

Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu, tolong tunggu saya. "

Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak.

Aku berpikir mungkin ”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “anak anda, Sindu benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu, “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.

MENINGGALKAN KHIANAT , MENDAPAT RAHMAT

Posted by Han on




Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar Al-Anshari berkata: "Dulu, aku pernah berada di Makkah semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu menjaganya, suatu hari aku merasakan lapar yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan laparku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera yang diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula.

Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, aku dapatkan didalamnya sebuah kalung permata yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Aku lalu keluar dari rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, 'Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata'. Aku berkata pada diriku, 'Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini padanya'.

Maka aku berkata pada bapak tua itu, 'Hai, kemarilah'. Lalu aku membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, dia menceritakan padaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, ciri-ciri permata dan jumlahnya berikut benang yang mengikatnya. Maka aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi aku tidak mau mengambilnya. Aku katakan padanya, 'Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu'. Ternyata dia bersikeras, 'Kau harus mau menerimanya', sambil memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tak mau menerima.

Akhirnya bapak tua itu pun pergi meninggalkanku. Adapun aku, beberapa waktu setelah kejadian itu aku keluar dari kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpangan itu pecah, orang-orang semua tenggelam dengan harta benda mereka. Tetapi aku selamat, dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut, tak tahu ke mana hendak pergi!

Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di salah satu masjid mereka sambil membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, tak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang kepadaku dan mengatakan, 'Ajarkanlah Al-Qur'an kepadaku'. Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak.

Di dalam masjid, aku menemukan beberapa lembar dari mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, 'Kau bisa menulis?', aku jawab, 'Ya'. Mereka berkata, 'Kalau begitu, ajarilah kami menulis'. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat banyak uang. Setelah itu mereka berkata, 'Kami mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?' Aku menolak. Tetapi mereka terus mendesak, 'Tidak bisa, kau harus mau'. Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga. Ketika mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya. Tak ada yang aku lakukan saat itu kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata itu.

Mereka berkata, 'Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya'. Maka saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. 'Ada apa dengan kalian?', kataku bertanya. Mereka menjawab, 'Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini'. Dia pernah mengatakan, 'Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku'.

Dia juga berdoa, 'Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku', dan sekarang sudah menjadi kenyataan'. Aku mulai mengarungi kehidupan bersamanya dan kami dikaruniai dua orang anak. Kemudian isteriku meninggal dan kalung permata menjadi harta pusaka untukku dan untuk kedua anakku. Tetapi kedua anakku itu meninggal juga, hingga kalung permata itu jatuh ke tanganku. Lalu aku menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari uang 100 ribu dinar itu."

MEMBUKA PINTU SORGA

Posted by Han on


Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala."

"Terima kasih," jawab Ali.
Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?"
Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''

Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.Ali pun bergegas berangkat ke pasar.

Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan."

Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."