subscribe to RSS

EBOOK, BOOKS, FREE DDOWNLOAD E-BOOK, DOWNLOAD GRATIS, NOVEL AGATHA CHRISTIE, EBOOKS BISNIS

Abdullah

Posted by Han on Friday, April 30, 2010

Letnan Yosep tersentak kaget. Dia tidak percaya kalau Abdullah ingin pergi ke Tel Aviv, menemui kakak iparnya di penjara bawah tanah. Semua orang, Israel, terutama tentara-tentaranya tahu bahwa tidaklah mudah untuk dapat memasuki penjara itu. Penjagaannya sangat ketat. Bahkan tidak semua tentara Israel boleh memasukinya. Hanya mereka yang mempunyai kepentingan dan mendapat izin kepala dinas intelegensi Israel yang boleh masuk. Penjara ini sangat rahasia. Orang asing dilarang keras meninjau lokasi yang memang sengaja dirahasiakan. Penjara ini sangat rahasia. Orang asing dilarang keras meninjau lokasi yang memang sengaja dirahasiakan. Penjara ini khusus menampung tawanan Palestina yang menurut mereka tingkat kejahatannya sangat tinggi. Biasanya yang dikirim ke penjara ini adalah orang-orang yang berpengaruh dan berperan aktif dalam merencanakan teror terhadap orang-orang Israel.


"Apa kamu yakin kakakmu ada di penjara itu?" tanya Letnan Yosep meminta penjelasan. "Ya, kalau aku tidak yakin buat apa aku bersikeras pergi ke Tel Aviv? Tolonglah Letnan, bagaimana caranya agar aku dapat memasuki tahanan itu," pinta Abdullah.

Letnan Yosep hanya manggut-manggut. Dia menunduk, membenamkan wajahnnya di meja kerjanya. Jidatnya tampak berkerut sebagai tanda berpikir keras. Dia menarik rambutnya berulang-ulang. Merasa pusing dan bingung. Kemudian dia mendesah, menghela nafas panjang.

"Tidak mungkin aku membantumu, Abdullah! Aku tidak berani menerima resikonya. Resikonya terlalu besar dan sanksinya sangat berat. Aku bisa dihukum mati kalau nekat membantumu!"

"Apa Letnan tidak percaya padaku? Tidakkah Anda ingat bagaimana aku membantu letnan selama ini? Memberikan informasi untuk Anda. Sekarang ini, aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu. Sekali ini saja Letnan!" Abdullah mendesak. "Letnan takut resiko? Bukankah selama ini Anda selalu berhadapan dengan resiko?" Abdullah mulai memaksa. "Dengar letnan, aku telah banyak membantumu tapi Anda tidak pernah berpikir untuk membalas usahaku sama sekali.

"Abdullah aku ini anggota intelegen yang tidak sembarangan mempercayai orang lain. Bahkan kepada saudaraku sendiri pun aku tidak boleh mempercayainya begitu saja. Ini urusan negara."

"Jadi selama ini, Anda tidak menaruh kepercayaan kepadaku?" "Bukan itu maksudku. Ini lain masalahnya. Ini bukan masalah kecil, penuh dengan resiko."

"Letnan, aku tahu Anda selalu berhadapan dengan resiko. Anda berhadapan dengan orang Palestina itu sebuah resiko yang sangat besar. Anda menginjakkan kaki di Palestina ini berarti Anda telah siap menghadapi segala macam resiko yang bakal terjadi. Sadarkah Anda kalau nyawa Anda akan terancam setiap saat? Tetapi sekarang Anda mengatakan takut menghadapi resiko. Resiko mana lagi yang Anda maksud!"

Letnan Yosep duduk termangu. Bimbang dan ragu. Di kepalanya seakan ditaruh sebuah beban yang sangat besar dan berat. Dia tidak mampu menahan beban itu.

Okey, okey kalau itu keputusan Letnan, aku mengerti. Tapi ingat, mulai sekarang anggap saja kita tidak mempunyai hubungan lagi! Aku tidak peduli segala urusan di sini. Jangan menyesal kalau kelak kita berhadapan sebagai musuh!" Abdullah mengancam kemudian pergi meninggalkan letnan Yosep yang duduk termangu.

Letnan Yosep terkejut mendengar ancaman Abdullah. Segera dia berteriak memanggilnya, "Abdullah, tunggu!" Abdullah menoleh ke belakang. Berhenti sejenak, menunggu letnan Yosep datang menghampirinya. "Baiklah, aku akan membantumu. Besok kita pergi. Tapi ingat, kamu tetap dalam pengawasanku. Jangan bertindak macam-macam. Kalau kamu bertindak macam-macam, aku tidak segan-segan menembakmu!" Yosep mengancam. Kamu akan kupernalkan dengan seorang teman yang bertugas di penjara Tel Aviv. Kalau dia menanyaimu bilang saja kamu adalah seorang mata-mata yang mendapat tugas di Gaza. Ingat Abdullah, kegiatan ini penuh resiko!" "Todah, Letnan. Atta akhi tov (Terima kasih letnan, engkau saudaraku yang baik)," Abdullah memeluknya erat-erat. "Ya, kia ketemu di Tel Aviv, di sebuh halte dekat gedung walikota. Ingat pukul 15.00!" "Siap, Letnan!"

Penjara ini memang untuk membuat orang yang dipenjara menjadi jerah. Ruangan bawah tanah yang sepi dan mencekam. Lembab dan gelap. Sel-sel tahanan berderet sepanjang lorong-lorong gelap. Sel tahanan itu telah terisi, penuh sesak. Penghuni penjara itu sebagian besar orang-orang Palestina. Ada juga beberapa orang Asia, entah dari mana asalnya. Abdullah tidak begitu memperhatikan mereka. Buru-buru dia melangkahkan kakinya menelusuri lorong-lorong gelap menuju sel nomor 24 dengan kawalan yang ketat. Dua tentara Israel bersenjata lengkap terus menempelnya.

Perlahan pintu sel nomor 24 dibuka. Abdullah terkejut. Di dalam sel sempit dan lembab itu, duduk seorang lelaki kurus dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Tubuhnya tampak mengigil kedinginan. Mukanya rusak, ada tanda-tanda bekas penyiksaan. Lelaki ini tidak dapat berdiri. Kakinya lumpuh tidak mampu menyangga tubuhnya yang lemah. Kaki itu benar-benar tidak dapat digerakkan. Lemas dan tidak bertenaga. Kini, yang masih tersisa dari lelaki itu hanyalah sorot matanya yang masih tajam dan jernih. Sebuah senyuman kedamaian yang menandakan ketenangan dan ketabahan selalu menghiasi bibirnya yang kering meranggas. Dan Qur'an saku tergenggam di tangganya. "Kamu punya waktu limba belas menit!' kata petugas itu. "Boleh aku berdua saja dengan dia?" pinta Abdullah. "Tidak bisa. Kamu harus mengawasimu terus." "Apakah engkau akan terus berdiri mematung disampingkku. Mengusik ketenanganku?" "Tidak kami akan mengawasimu dari balik jeruji." "Kalau begitu, biarkan aku berdua." "Baik!"
Abdullah memandang lelaki lumpuh yang duduk di depannya. Diangkatnya kepala lelaki itu dengan tangan kanannya secara perlahan. Sorot mata lelaki itu bagitu tajam, menatap wajah Abdullah penuh kewaspadaan. Bau tidak sedap menyebar dari tubuh lelaki itu. Abdullah segera menutup hidungnya,tidak tahan mencium bau busuk dari bekas luka-luka di tubuh lelaki itu. Luka-luka di tubuhnya mulai membusuk dan bernanah. "Kamu Hafidz?" tanya Abdullah.

Hafidz mengangkat kepalanya ragu. Dia heran melihat pemuda Palestina yang bisa leluasa masuk penjara di bawah tanah. Suatu hal yang mustahil dan tidak pernah terjadi selama in. Hafidz menganggukkan kepalanya pelan. Dari sorot matanya seakan ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi sulit. Bibirnya tampak bergerak-gerak, namun tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Secara pelan dan lemah sekali, dari mulutnya terdengar kalimat Allah. "Rabbi, Rabbi...!" Abdullah memandang haru pada lelaki yang duduk di depannya. Dia tidak percaya lelaki itu adalah Hafidz, akak iparnya. Dendam lamanya seakan padam begitu melihat kenyataan yang ada di depannya. Abdullah mencoba mengingat-ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu yang telah menimpa ayah dan kedua kakak perempuannya. Dia sengaja membuka ingatannya untuk membangkitkan kembali dendamnya yang hampir memudar. Dan kakaknya meninggal secara menyedihkan, keluarganya terlantar dan kini dialah satu- satunya orang yang harus menanggung semua kelaurganya. Membiayai seluruh kebutuhan ibu dan kemenakannya.

"Hafidz, kau tahu siapa aku?" tanya Abdullah, bertolak pinggang. Hafidz menggeleng kan kepalanya. "Masa kamu lupa? Selama ini apa yang ada di dalam ingatanmu?" Abdulah menampak kan kemarahannya.

"Rabbi...,Rabbi...," suara lemah itu meluncur begitu saja, keluar dari mulut Hafidz. "Ketahuilah Hafidz akulah Abdullah. Adik kandung Zainab, anak Abu Fatih," Abdullah menjelaskan.

"Bagaimana, kau ingat sekarang? Engkau ingat siapa Zainab? Seorang wanita yang telah meninggal demi menyelamatkan nyawa seorang lelaki yang dicintainya? Tetapi ternyata lelaki itu tidak pernah mempedulikannya, bahkan membiarkan anaknya hidup menderita tanpa kasih sayang ibu dan ayahnya?" Mata Hafidz mulai sembab, berkaca-kaca. Butiran-butiran air mata yang jernih mengalir dari dua matanya yang ceking. Melewati kedua pipinya yang penuh dngan goresan-goresan luka. Air mata itu begitu jernih dan bersih. Sudah lama Hafidz tidak menangis untuk sebuah peristiwa yang dialaminya. Tangisnya semata untuk Allah, Rabbnya. Tapi kali ini dia benar-benar meneteskan air mata.

Dia ingin bangun dan berdiri. Memeluk dan mencium Abdulllah, adik iparnya. Tapi kedua kakinya tidak dapat digerakkan. Tubuhnya sangat lemah. Hanya sorot matanya yang seakan berbicara. "Engkau tidak perlu menangis di depanku. Aku tidak mungkin iba melihat tangismu. Engkau telah melakukan perbuatan yang memalukan. Sebuah perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan dan kehinaan...!" bentak Abdullah. Hafidz terdiam. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan. Tubuhnya mulai berkeringat. Dari sorot matanya tampak kesedihan yang mendalam. Perlahan dia mengambil sesuatu dari balik bajunya. Sebuah lipatan kertas lusuh. Kemudian diserahkannya kerta lusuh itu kepada Abdullah. Abdullah dengan cepat meraih kertas itu kemudian membacanya dengan seksama.

"Bismillahirahmanirrahim. Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan manusia, mematikan, dan menghidupkannnya kembali.

Saudaraku, bila aku mati janganlah engkau tangisi kematianku. Dan bila aku telah pergi janganlah engkau sesalkan kepergianku. Kepergianku ini adalah untuk sebuah tujuan mulia. Kita merencanakan tapi Allah-lah yang menentukan. Untuk ibuku tercinta, kuatkan iman dan ketabahanmu.

Kak Hafidz aku sangat bahagia, ternyata engkau adalah seorang mujahid pembela dan penegak dienul Islam. Dan untuk adiku yang tercinta, Abdullah..." tangan Abdullah mulai gemetar. Dia berhenti sejenak, diulangi lagi kata demi kata, baris demi baris. Hatinya bergetar keras saat membaca namanya tertera di surat itu "untuk Abdullah".

Tiba-tiba dia meneteskan air mata haru. "untuk adikku Abdullah, teruskan perjuangan ini. Engkau adalah pemuda Palestina. Tugasmu membebaskan Al-Aqsa yang masih dalam cengkeraman Israel.

Abdullah, janganlah engkau biarkan kematian kakak ini sia-sia. Jagalah Burhan, dia adalah penerus cita-cita, biarkan dia tumbuh menjadi seorang mujahid seperti bapaknya dan kakeknya. Adikku, Abdullah. Engakau satu-satunya harapankku. Harapan keluarga dan harapan negeri ini yang memang banyak menuntut pengorbanan. Kakak tunggu di surga, Amiin.
Wassalam "Al ma'atul mukhlisah,' Zainab binti Abu Fatih.

Tubuh Abdullah kelihatan lemas, ketika selesai membaca surat di tangannya. Pikirannya tidak keruan. Terbayang dengan jelas dalam ingatannya, Zainab, kakaknya yang telah meninggal, berdiri persis di depannya. Dia tampak kecewa melihat perbuatan Abdullah selama ini. Dalam bayangannya itu, Zainab menunduk sedih, berderai air mata. Bayangan itu mejadi samar, buram dan kemudian menghilang. Tubuh Abdullah gemeter, lemas dan lunglai. Butiran-butiran pilu mulai mengalir perlahan dari jidatnya, melewati arus raut mukanya. Membasahi keningnya kemudian butiran itu jatuh menima lantai penjara. Lantai yang lembab itu semakin lembab dan basah. Mata Abdullah berkunang-kunang. Secara bergantian sosok orang-orang yang dikenalnya lalu lalang dalam benaknya. Wajah Fitri, kakaknya yang kedua, tampak dalam ingatannya. Wajah yang menawan dan manis itu, seperti menumpahkan kekesalan dan kemarahan.

Sebuah wajah yang menampakkan kebencian. Sorot matanya, mengisyaratkan sebuah kata-kata. "Engkau lelaki pengecut!" Kemudian bayangan itu secara perlahan lenyap dan hilang. Selanjutnya disusul bayangan ratusan pemuda, anak-anak kecil, ibu-ibu, daorang-orang yang telah lanjut usia. Mereka menatap geram kepadanya. Memandang rendah dan hina. Dari mulut mereka secara serentak keluar bunyi gemremeng saling bersahutan. Membentuk gemuruh suara yang tidak beraturan. "Anta jabban...! jabban.., jabban...!" (Engkau pengecut!) "Kakak...!" Abdullah memeluk erat tubuh Hafidz. Dia menangis tersedu-sedu. Tangisnya meledak dan memilukan. Dia mencoba menahan tangisnya tapi tidak mampu. Tampak tubuhnya berguncang- guncang menahan tangis. Hafidz membiarkan Abdullah menangis dalam pelukannya. Membiarkan tubuhnya yang lemah itu terguncang-guncang oleh sesenggukkan tangis Abdullah. "Kakak..,maafkan adikmu ini. Aku seorang pengecut. Seorang yang telah mengkhianati bangsa dan menjual tanah air sendiri. Kakak, aku telah meminum darah saudaraku sendiri. Memakan daging mereka. Ampuni saya, Kak!" tangis Abdullah meledak. Tangis itu membangunkan sunyi dalam penjara. Menggetarkan kekokohan tembok-tembok tebal penjara di bawah tanah. Menusuk kalbu yang tertidur lama dalam kungkungan penjara yang menjerahkan.

Abdullah merasakan tubuhnya ditarik kuat-kuat. Tercengkeram. Tangan kuat dan kekar seakan membetot tubuhnya. Dia terus memeluk tubuh Hafidz erat-erat, tidak mau melepaskan lagi. Cengkeraman itu semakin kuat menarik tubuhnya yang menyatu dalam tubuh Hafidz. Dan tiba-tiba pelukan Abdullah lepas. Dia terhempas. Tersungkur di atas lantai yang lembab dan basah. Tercium bau anyir, kotoran tikus dan sisa makanan yang sudah membusuk. Abdullah meringis kesakitan. Di depannya telah berdiri seorang tentara Israel yang bertubuh besar dan menyeramkan. Tubuh itu tinggi, menjulang hampir menjebol langit-langit penjara. Giginya gemeletuk, saling beradu. Suaranya melengking keras, memecahkan gendang telinga. Membuat nyali hilang tak berbekas. Kemudian menciptakan beribu-ribu perasaan takut dan mencekam "Pergi dari sini...!" suara itu seakan menghempaskan Abdullah jauh ke relung-relung dan lembah ketakutan. Sepi, gelap, dan mencekam. "Apa yang kau lakukan?" tanya lelaki kekar itu dengan garang. Belum sempat mejawab pertanyaan itu, tiba-tiba tubuh Abdullah telah melayang, membentur jeruji besi. Tergeletak di luar ruangan penjara. "Kakak...!" dia berusah bangkit, berdiri dan berjalan ke arah Hafidz. Dua tentara Israel dengan sigap menyeret tubuhnya, meninggalkan sel nomor 24. Tubuhnya dicengkeram dua tangan yang kuat dan kokoh.

"Engkau mengacaukan rencana kita. Kutembak kau...!" suara letnan Yosep memekakkan telinga Abdullah. Sebuah pistol telah menempel di kening Abdullah.

TEGAKKAN SHOLAT PHK DIDAPAT

Posted by Han on Monday, April 19, 2010

Berawal dari sebuah perkenalannya dengan seorang pemuda muslim Evi Cristiani yang kini sudah menjadi seorang muslimah yang patut dicontoh. Perilaku keislamannya benar-benar diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari walau begitu berat cobaan yang dihadapinya.


Sekali syahadat sebagai kesaksian sakral sudah ia ucapkan maka pantang baginya untuk surut menegakkan kalimat Allah dalam kalbunya. Sudah pasti orang tuanya menentang keinginannya, Evi pun harus hijrah ke tempat kost agar ibadahnya lancar ia kerjakan.

Belum lagi beres masalah dengan orang tuanya lantaran ia masuk Islam, Evi harus menghadapi masalah di tempat kerjanya. Gadis berusia 27 tahun bekerja di sebuah biro perjalanan yang mayoritas karyawannya beragama non muslim. Profesionalisme juga tidak dijalankan di sana karena sikap sebagian besar karyawannya masih memakai sentimen agama.

Hasilnya Evi jadi bulan-bulanan para atasan karena dianggap tidak sejalan dengan pola pikir mereka. Ada acara rutin tiap dua pekan sekali yang wajib diikuti oleh karyawan bagian Evi bertugas. Acara yang sarat dengan unsur maksiat itu adalah mengunjungi bar-bar dan bersenang-senang hingga mabuk.

Dulu ia tidak pernah lewatkan acara itu tapi sejak ia masuk Islam jelas acara model itu ia tolak mentah-mentah. Segala alasan ia cari agar ia bisa terbebas dari dosa itu. Sampai akhirnya atasannya jenuh dan tidak akan mengajak Evi hura-hura lagi. Beres dengan yang satu itu muncullah masalah lain yang tak kalah menyakitkan Ketika seorang kawannya pulang dari tugas ke eropa, ia membawa oleh-oleh yang dibagikan ke rekan-rekannya kantornya tak terkecuali Evi. Oleh-oleh berupa kue itu tak disangka mengandung daging babi. Lantaran Evi tidak tahu ia makan segigit kue itu lalu kawannya pun berkata,"Evi itu kan ada babinya kok dimakan juga" . Mendengar hal itu Evi pun lari ke kamar mandi dan memuntahkan sebisa-bisa makanan dalam mulutnya sambil beristighfar tak henti-henti. Kawannya pun ia tegur, tidak keras tapi tegas. Si kawan merasa tidak salah dan berkelit. Evi menghentikan debat itu dan coba menyabarkan dirinya.

Yang diingatnya hanya kekuatan Allah agar bisa memberinya kekuatan untuk dapat bertahan dari cobaan ini. Sejak itulah kebencian mulai tumbuh subur di antara rekan sejawatnya. Menanggapi hal tersebut atasannya segera memindahkannya ke bagian lain.

Lagi-lagi di bagian yang baru Evi dihujam oleh fitnah yang bertubi tubi. Manajernya yang baru justru yang menjadi momok lahirnya fitnahan tersebut. Cobaan demi cobaan itu dipuncaki dengan dipanggilnya ia oleh pihak SDM.

Ia jelaskan bahwa ia harus menjalankan kewajibannya sebagai muslim yaitu shalat dan berusaha menghindari kemaksiatan sekeras mungkin.Jalan keluar tidak ketemu dan PHK jadi solusi yang terbaik.Evi terima dengan ikhlas,"rejekiku sudah diatur olehNya," gumam Evi mantap sambil keluar kantor dengan perasaan lega.

Semoga Allah Swt memberikan kekuatan lahir bathin buat sdri. Evi yang telah mendapatkan Hidayah di jalan Allah. Amin

Kalung Anisa

Posted by Han on Sunday, April 18, 2010

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.

Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya.

"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... "

Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000.

Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten...

"Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"

Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.

"Terimakasih..., Ibu"

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.

Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...

Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya,

"Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"

"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"

"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu...

"Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu
kesayanganku juga

"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,

"Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"

"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?".

"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."

"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.."Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya..."Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"

Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya" Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa"

Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih...sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa..."Anisa... ini
untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"

Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.



Sumber : Da'arut tauhid

TIDUR DAN KEMATIAN

Posted by Han on

Prof. Arthur Alison: ''Karena Az Zumar 42''

Namaku Arthur Alison, seorang profesor yang menjabat Kepala Jurusan Teknik Elektro Universitas London. Sebagai orang eksak, bagiku semua hal bisa dikatakan benar jika masuk akal dan sesuai rasio. Karena itulah, pada awalnya agama bagiku tak lebih dari objek studi. Sampai akhirnya aku menemukan bahwa Al Quran, mampu menjangkau pemikiran manusia. Bahkan lebih dari itu. Maka aku pun memeluk Islam.

Itu bermula saat aku diminta tampil untuk berbicara tentang metode kedokteran spiritual. Undangan itu sampai kepadaku karena selama beberapa tahun, aku mengetuai Kelompok Studi Spiritual dan Psikologis Inggris. Saat itu, aku sebenarnya telah mengenal Islam melalui sejumlah studi tentang agama-agama.

Pada September 1985 itulah, aku diundang untuk mengikuti Konferensi Islam Internasional tentang 'Keaslian Metode Pengobatan dalam Al Quran'di Kairo. Pada acara itu, aku mempresentasikan makalah tentang 'Terapi dengan Metode Spiritual dan Psikologis dalam Al Quran'.

Makalah itu merupakan pembanding atas makalah lain tentang 'Tidur dan Kematian', yang bisa dibilang tafsir medis atas Quran surat Az Zumar ayat 42 yang disampaikan ilmuwan Mesir, Dr. Mohammed Yahya Sharafi.

Fakta-fakta yang dikemukakan Sharafi atas ayat yang artinya, "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir," telah membukakan mata hatiku terhadap Islam.

Secara parapsikologis, seperti dijelaskan Al Quran, orang tidur dan orang mati adalah dua fenomena yang sama. Yaitu dimana ruh terpisah dari jasad. Bedanya, pada orang tidur, ruh dengan kekuasaan Allah bisa kembali kepada jasad saat orang itu terjaga. Sedangkan pada orang mati, tidak.

Ayat itu merupakan penjelasan, mengapa setiap orang yang bermimpi sadar dan ingat bahwa ia telah bermimpi. Ia bisa mengingat mimpinya, padahal saat bermimpi ia sedang tidur.

Al Quran surat Az Zumar ayat 42 ini juga menjadi penjelasan atas orang yang mengalami koma. Secara fisik, orang yang koma tak ada bedanya dengan orang mati. Tapi ia tak dapat dinyatakan mati, karena secara psikis ada suatu kesadaran yang masih hidup.

"Bagaimana Al Quran yang diturunkan 15 abad silam, bisa menjelaskan sebuah fenomena yang oleh teori parapsikologis baru bisa dikonsepsikan pada abad ini?" Jawaban atas pertanyaan inilah yang akhirnya meyakinkan aku untuk memeluk Islam.

Selepas sesi pemaparan kesimpulan dalam konferensi itu, disaksikan oleh Syekh Jad Al-Haq, Dr. Mohammed Ahmady dan Dr. Mohammed Yahya Sharafi, akupun menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah agama yang nyata benarnya.

Terbukti, isi Al Quran yang merupakan firman Allah pencipta manusia, sesuai dengan fakta-fakta ilmiah. Kemudian dengan yakin, aku melafadzkan dua kalimat syahadat yang sudah sangat fasih kubacakan. Sejak itu aku pun menjadi seorang Muslim dan mengganti namaku menjadi Abdullah Alison.

Sebagai Ketua Kelompok Studi Spiritual dan Psikologi Inggris, aku telah mengenal banyak agama melalui sejumlah studi yang dilakukan. Aku mempelajari Hindu, Budha dan agama serta kepercayaan lainnya. Entah kenapa, ketika aku mempelajari Islam, aku juga terdorong untuk melakukan studi perbandingan dengan agama lainnya.

Walaupun baru pada saat konferensi di Mesir, aku yakin benar bahwa Islam sebuah agama besar yang nyata perbedaannya dengan agama lain. Agama yang paling baik diantara agama-agama lain adalah Islam. Ia cocok dengan hukum alam tentang proses kejadian manusia. Maka hanya Islam-lah yang pantas mengarahkan jalan hidup manusia.

Aku merasakan benar, ada sesuatu yang mengontrol alam ini. Dia itulah Sang Kreator, Allah Swt. Dari pengalaman bagaimana aku mengenal dan masuk Islam, aku pikir pendekatan ilmiah Al Quran bisa menjadi sarana efektif untuk mendakwahkan Islam di Barat yang sangat rasional itu.

Sumber : (Pesantren.net)

ASAL-USUL KUMANDANG ADZAN

Posted by Han on Saturday, April 17, 2010

Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dimusnahkan.

Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.

Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.

Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama `ah dimulai.

Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba.

Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.

Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.

Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :

"Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu.

Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. Orang tersebut malah bertanya," Untuk apa ? Aku menjawabnya,"Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat." Orang itu berkata lagi,"Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?" Dan aku menjawab " Ya !"

Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , " Allahu Akbar,Allahu Akbar.."

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,"Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal."

Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.


(Diriwayatkan oleh : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari )


Tulisan diambil dari Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Pancaran Cahaya Kebaikan

Posted by Han on

Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin.

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah iamengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan.

Ia membiarkan beberapa kuda lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju.

Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang...dan ia pun berkata,

"Tuan, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua ini ke seberang ? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki."

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, "Tentu. Naiklah." Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda.

Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer. Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda atas sesuatu, mendorongnya untuk bertanya,

"Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang2 kuda lain lewat, tanpa berusaha meminta tumpangan. Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin seperti ini Bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana?"

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggang kuda dan menjawab, "Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang."

Si orang tua melanjutkan, "Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan.
Tapi waktu saya melihat matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terasa jelas ada pada dirimu. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya."

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. "Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak", ia berkata pada si orang tua. "Mudah-mudahan saya tidak akan terlalu sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain.."

Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson, si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan
melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.

The Sower's Seeds - Brian Cavanaugh.

Kau tak akan pernah tahu kapan kau akan memerlukan orang lain, atau kapan seseorang memerlukanmu. Kebijakan dari seluruh hidupmu melukis sebuah citra dimatamu, yang membantu orang lain melihat, menemukan pertolongan yang ia butuhkan, dan bahwa masih ada
keutamaan lain di dunia ini dari pada sekedar peduli dengan dirimu sendiri, yaitu kepedulianmu pada orang lain, sahabatmu atau benar-benar orang lain.

Maka bila ada sahabat atau seseorang memerlukan perhatian atau bantuanmu, atau meminta maaf atas satu kesalahan, itu karena ia menghormati dan menghargai kebaikan yang pasti ada dalam jiwamu. Kau dapat menghormati juga permintaan itu, atau kau meninggalkannya di tengah jalan sendirian.

Kisah Taubatnya Malik Bin Dinar

Posted by Han on Friday, April 2, 2010

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudia akau beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

Ketika malam dipertengahan bulan Sya'ban dan itu di malam Jum'at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya'. Maka akau bermimpi seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.

Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan, Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :

"Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu". Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :

"Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu",

Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku,

"Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,

"Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syaikh itu seraya berkata,

"Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu"

Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah
retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu
dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.

Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : "Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu -pintunya dan mendakilah kesana!" Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).

Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :

"Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya".

Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :

"Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : "Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah". (QS. Al-Hadid : 16).

Maka aku menangis dan berkata : "Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur'an", maka dia berkata :

"Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur'an darimu", aku berkata :

"Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab :

"Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka", akau berkata :

"Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab : "Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata :

"Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : "Kami adalah anakanak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa'at pada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

Berkata Malik : "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah".